Peristiwa Rengas Dengklok
Peristiwa Rengas Dengklok
Sutan Syahrir yang mendengar berita kekalahan Jepang kepada Sekutu melalui radio gelap segera mendesak Soekarno-Hatta agar segera melaksanakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanpa harus menunggu izin dari Jepang. Itulah sebabnya ketika mendengar kepulangan Soekarno-Hatta, Radjiman Widyodiningrat dari Dalat (Saigon), maka ia segera meyakinkan Bung Hatta bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Namun Bung Hatta tidak dapat memenuhi permintaan Sutan Syahrir sebab menurut Bung Hatta Soekarno tidak berhak mengumumkan kemerdekaan sekalipun dia ketua PPKI, harus melalui persetujuan PPKI terlebih dahulu. Kemudian Bung Hatta mengajak Sutan Syahrir pergi ke rumah Bung Karno untuk menyampaikan berita penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu.
Sutan Syahrir yang mendengar berita kekalahan Jepang kepada Sekutu melalui radio gelap segera mendesak Soekarno-Hatta agar segera melaksanakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanpa harus menunggu izin dari Jepang. Itulah sebabnya ketika mendengar kepulangan Soekarno-Hatta, Radjiman Widyodiningrat dari Dalat (Saigon), maka ia segera meyakinkan Bung Hatta bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Namun Bung Hatta tidak dapat memenuhi permintaan Sutan Syahrir sebab menurut Bung Hatta Soekarno tidak berhak mengumumkan kemerdekaan sekalipun dia ketua PPKI, harus melalui persetujuan PPKI terlebih dahulu. Kemudian Bung Hatta mengajak Sutan Syahrir pergi ke rumah Bung Karno untuk menyampaikan berita penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu.
Oleh Bung Hatta dijelaskan maksud kedatangannya Sutan
Syahrir, namun Bung Karno belum dapat menerima maksud Sutan Syahrir.
Pendapat Bung Karno sama dengan Bung Hatta bahwa Proklamasi Kemerdekaan
tidak mungkin dapat dilaksanakan tanpa mengikutsertakan PPKI. Selain itu
Bung Karno belum yakin benar tentang berita kekalahan Jepang, karena
beliau baru saja pulang dari Dalat untuk memenuhi panggilan Jenderal
Besar Terauchi.
Merasa tidak puas dengan jawaban Bung Karno, maka pada
tanggal 15 Agustus 1945 golongan muda mengadakan rapat di ruangan
Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta. Rapat yang dimulai
pukul 20.00 itu menghasilkan tuntutan agar bangsa Indonesia sesegera
mungkin memproklamasikan kemerdeka-an dengan menyertakan Ir. Soekarno
dan Drs. Moh. Hatta untuk menyatakan Proklamasi pada tanggal 16 Agustus
1945. Hadir dalam rapat itu antara lain Chairul Saleh, Djohar Nur,
Kusnandar, Subadio, Margono, Wikana, dan Alamsyah. Pada pukul 22.00 WIB
Wikana dan Darwis berangkat menuju kediaman Ir. Soekarno di Jalan
Pegangsaan Timur 56 Jakarta untuk menyampaikan tuntutan golongan muda.
Tuntutan golongan muda yang disampaikan oleh Wikana
menjadikan suasana menjadi tegang. Perdebatan sengit yang disaksikan
golongan tua yang lain ini semakin menampakkan perbedaan pendapat antara
golongan tua dan muda.
Menjelang tanggal 16 Agustus 1945, tepatnya pada pukul
24.00 para pemuda yang sebelumnya mengikuti rapat di Lembaga
Bakteriologi mengada-kan rapat sekali lagi. Rapat yang juga dihadiri
oleh Sukarni, Yusuf Kunto, dr. Muwardi dari Barisan Pelopor, dan
Shodancho Singgih dari Daidan Peta Jakarta Syu.
Rapat ini menghasilkan keputusan untuk mengamankan Ir.
Soekarno dan Drs. Moh. Hatta ke luar kota dengan tujuan menjauhkan dari
pengaruh Jepang. Dengan didukung perlengkapan tentara PETA pada tanggal
16 Agustus 1945, pukul 04.30 WIB Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dibawa
ke Rengasdengklok. Rengasdengklok adalah sebuah desa di kecamatan
Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, sekitar 60 km, sebelah timur
Jakarta. Rengasdengklok dipilih karena letaknya yang strategis dekat
tangsi PETA. Upaya penekanan yang dilakukan oleh para pemuda kepada Ir.
Soekarno dan Drs. Moh. Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan
terlepas dari pengaruh Jepang tidak membuahkan hasil.
Berita tentang diculiknya Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta
membuat gusar Subardjo. Sebagai salah seorang tokoh golongan tua
Subardjo merasa bertanggung jawab atas hilangnya Soekarno-Hatta, sebab
pada tanggal 16 agustus 1945 akan diadakan sidang PPKI yang pertama.
Sidang PPKI ini jelas tidak dapat dilaksanakan apabila ketua dan
wakilnya tidak ada. Untuk itu beliau berusaha mencari tahu di mana kedua
tokoh ini berada.
Langkah yang pertama dilakukan adalah mencari keterangan
di rumah Laksmana Maeda. Akan tetapi Maeda juga tidak tahu. Sesudah itu
Subardjo mencari Wikana yang kebetulan saat itu sedang mengadakan rapat
dengan para pemuda. Subardjo lantas mendesak agar Wikana memberitahu di
mana bung Karno dan bung Hatta disembunyikan. Pada awalnya Wikana
menolak.
Subardjo lantas menjelaskan bahwa Soekarno dan Hatta
sangat diperlukan di Jakarta dan tindakan yang dilakukan para pemuda
akan mendapat balasan dari Jepang sebab mereka sudah diberi ultimatum
oleh Sekutu agar tidak melakukan perubahan politik di Indonesia. Untuk
itulah Soekarno dan Hatta diperlukan untuk berdiplomasi dengan Jepang.
Pada akhirnya Wikana luluh juga. Dengan diantar oleh beberapa pemuda,
sore itu Subardjo diantar ke Rengasdengklok. Pada malam hari pukul 20.00
WIB Soekarno dan Hatta tiba di Jakarta
No comments:
Post a Comment